NO WASTING TIME!

Mendamba UN yang Jujur

OPINI | Dimuat di Jurnal Nasional pada Senin 18 April 2011

Sertifikasi Otomatis Cetak Guru Profesional?

Dimuat di Harian Solopos pada Selasa 4 Nopember 2008

Wajah Bopeng Pendidikan Kita

Refleksi Hardiknas

Kaji Ulang Ujian Nasional

Dimuat di Jurnal Nasional pada Sabtu 11 Mei 2013

Setelah RSBI dibubarkan

OPINI | Sutrisno, Guru SMPN 1 Wonogiri

Sabtu, 29 November 2014

KISI – KISI BAHASA INGGRIS KELAS VII


Silahkan di DOWNLOAD disini ->>KISI-KISI INGGRIS KELAS VII

KISI – KISI SOAL ULANGAN
AKHIR SEMESTER GASAL
Satuan Pendidikan      :        SMP                                         
Tahun Pelajaran           :        201
4/2015
Mata Pelajaran              :        Bahasa Inggris                                       
Waktu                              :        07.30 – 09.00
Kelas/Program              :        VII                                         
Jumlah Soal                   :       
50  soal Pilgan  5 Essay
                                                                                                                                                                                            
Kompetensi Inti

KI 1: Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya
KI 2: Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.
KI 3: Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian  tampak mata).
KI 4: Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori.

No.
Urut
Kompetensi Dasar/ Indikator
Bahan Kelas/ smt.
Materi
Indikator Soal
Bentuk Tes
No. Soal
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
1
3.1. Memahami fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan pada ungkapan sapaan, pamitan, ucapan terimakasih, dan permintaan maaf, serta responnya, sesuai dengan konteks penggunaannya.

VII/1
Dialog tentang ungkapan sapaan/pamitan, ucapan terimakasih, dan permintaa maaf















Dialogue siswa terlambat atau tidak mengerjakan PR








Dialogue tentang ucapan terimakasih  atas suatu barang atau bantuan yang diberikan dan respondnya
·         Diberikan sebuah situasi, siswa mengidentifikasi ungkapan sapaan yang benar sesuai konteks.
·         Diberikan sebuah situasi, siswa mengidentifikasi ungkapan untuk menanyakan kabar/ keadaan seseorang yang benar.
·         Diberikan sebuah situasi, siswa mengidentifikasi  respon dari kabar seseorang baik kabar baik ataupun buruk dengan benar sesuai konteksnya.
·         Diberikan sebuah situasi siswa dapat mengidentifikasi ungkapan pamitan/perpisahan dengan benar.

·         Diberikan sebuah situasi, siswa mengidentifikasi ungkapan permintaan maaf  yang benar.
·         Diberikan sebuah situasi, siswa Mengidentifikasi respon yang tepat dari permintaan maaf permintaan maaf.
·         Siswa mengidentifikasi tujuan komunikatif atau fungsi social dari suatu ugkapan yang digaris bawahi.
·         Diberikan sebuah situasi, siswa mengidentifikasi respon yang tepat dari ucapan terimakasih
·         Diberikan sebuah situasi, siswa mengidentifikasi struktur teks dari ungkapan permintaan maaf
·         Diberikan sebuah situasi, siswa mengidentifikasi respon yang tepat dari permintaan maaf

·         Mengidentifikasi fungsi social dari apology

PG










PG





PG




1,


2,




3




4,




 5,


 6


7


8


9
10



11
2
3.2. Memahami fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan pada ungkapan perkenalan diri, serta responnya, sesuai dengan konteks penggunaannya.

VII/1
Reading
Teks dialog  pendek dan sederhana tentang perkenalan diri/orang lain dan respondnya





  • Diberikan sebuah situasi, siswa mengidentifikasi  ungkapan yang tepat dari perkenalan diri/ orang lain beserta respondnya yang benar.

  • Mengidentifikasi fungsi social dari sebuah dialog tentang perkenalan diri.

  •  Mengidentifikasi informasi tersirat dan tersirat dari dialog
PG






PG

12, 13,14,





15


16, 17
3
3.3. Memahami fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan dari teks untuk menyatakan dan menanyakan nama hari, bulan, nama waktu dalam hari, waktu dalam bentuk angka, tanggal, dan tahun.



VII
Sebuah kalender dari bulan tertentu









Sebuah jadwal pelajaran lengkap dengan hari, waktu dan jam
  • Diberikan sebuah kaleder bulan tertentu, siswa mengidentifikasi hari kedua dan terakhir  dari kalender tersebut

  • Diberikan pertanyaan tentang hari special dari bulan tersebut,  missal hari kartini atau hari pendidikan nasional siswa mengidentifikasi tanggal yang benar

  • Mengidentifikasi informasi rinci tersurat dalam sebuah jadwal

  • Mengidentifikasi informasi rinci tersirat

Pilihan Ganda
18, 19





20, 21




22, 23,
24, 25

26, 27
4
4.3. Menyusun teks lisan dan tulis untuk menyatakan dan menanyakan nama hari, bulan, nama waktu dalam hari, waktu dalam bentuk angka, tanggal, dan tahun, dengan unsur kebahasaan yang benar dan sesuai konteks.


VII/1
Jumbled words tentang hari, tanggal pada bulan tertentu.


Gambar jam 



  • Menyusun beberapa kata tentang tanggal pada bulan tertentu

  • Menyusun kalimat tentang menyebutkan waktu yang benar


Pilihan Ganda

Pilihan ganda
28, 29


30, 31
5
3.4. Memahami fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan dari teks pemaparan jati diri, sesuai dengan konteks penggunaannya

VII/1
Sebuah gambar family tree
  • Mengidentifikasi informasi tersirat
  • Mengidentifikasi informasi rinci tersurat


32
33, 34, 35

6
4.4. Menangkap makna pemaparan jati diri lisan dan tulis sangat pendek dan sederhana.
VII/1
Paragraph rumpang tentang pemaparan jati diri

  • Melengkapi paragraph rumpang tentang pemaparan jati diri denga empat kata hilang (verb, adjective, adverb, noun)

36, 37,
38, 39



7
4.4. Menangkap makna pemaparan jati diri lisan dan tulis sangat pendek dan sederhana
VII
Writing

Kalimat acak tentang pemaparan jati diri
  • Menyusun beberapa kalimat acak menjadi paragraph yang baik dari pemaparan jati diri
Piliha ganda
40
8
3.5. Memahami fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan pada teks untuk menyatakan dan menanyakan nama dan jumlah binatang, benda, dan bangunan publik yang dekat dengan kehidupan siswa sehari-hari.

VII/1
Dialogue tentang nama benda, binatang, benda atau bangunan public yang dekat dengan kehidupan siswa sehari-hari
  • Diberikan sebuah situasi siswa mengidentifikasi gambaran umum dari teks.
  • Diberikan sebuah situasi siswa mengidentifikasi informasi tersirat dari teks.
  • Siswa mengidentifikasi informasi tersurat tentang jumlah binatang/benda

Pilihan Ganda
41,


 42


 43
9
4.6. Menyusun teks lisan dan tulis untuk menyatakan dan menanyakan nama binatang, benda, dan bangunan publik yang dekat dengan kehidupan siswa sehari-hari, dengan memperhatikan fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan yang benar dan sesuai konteks

VII/1
Writing
Dialog rumpang tentang menanyakan nama binatang, benda atau bangunan publik
  • Melengkapi dialogue tentang perkenalan diri dengan kalimat –kalimat dan ungkapan yang benar




Pilihan Ganda
44, 45, 46





10.
3.11. Memahami fungsi sosial dan unsur kebahasaan dalam lagu

VII/1
Potongan bait sebuah lagu
  • Diberikan sebuah situasi siswa mengidentifikasi gambaran umum  dari sebuah lagu
  • Siswa mengidentifiaksi informasi tersurat
  • Siswa mengidentifikasi unsure kebahasaan dari sebuah lagu
Pilihan ganda
47


48


49, 50


11.
3.4. Memahami fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan dari teks pemaparan jati diri, sesuai dengan konteks penggunaannya



VII/1
Sebuah essay pendek tentang pemaparan jati diri
Diberikan sebuah teks pemaparan jati diri tentang anggota keluarga missal my father, my sister. Siswa menjawab berbagai pertanyaan dari teks.
Essay
1, 2.
12.
4.5. Menyusun teks lisan dan tulis untuk memaparkan dan menanyakan jati diri, dengan sangat pendek dan sederhana, dengan memperhatikan fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan yang benar dan sesuai konteks.

VII/1
Writing
Menyusun sebuah pemaparan jati diri dari data yang tersedia

Menyusun sebuah essay pendek tentang pemaparan jati diri dari data yang tersedia.



Essay terstruktur
3,
13
4.5. Menyusun teks lisan dan tulis untuk memaparkan dan menanyakan jati diri, dengan sangat pendek dan sederhana, dengan memperhatikan fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan yang benar dan sesuai konteks.


VII/1
Jumbled sentences
  • Disajikan beberapa kalimat acak tentang pemaparan jati diri. Siswa menyusun menjadi paragraph yang baik dan benar
Essay
4
5.
4.14 Menangkap makna lagu.

VII/1
Potongan bait lagu dengan beberapa kata hilang
  • Diberikan sebuah bait lagu rumpang, siswa mengisi dengan rhyme yang tepat
Essay
5 (a, b, c, d, e)

                                                                                                                                                                   Wonogiri, 22 Oktober 2014

                                                                                                                                                            Ketua MGMP Bahasa Inggris Rayon  Kabupaten Wonogiri

Kisi-kisi Ulangan Akhir Semester Mata Pelajaran Bahasa Inggris

Ulangan Umum Akhir Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2014/2015
Mata Pelajaran Bahasa Inggris Kelas 7
Kisi-kisi bisa di dowload di sini Kisi-Kisi Bahasa Inggris Kelas 7

Jumat, 07 November 2014

Menata Dasar Pendidikan [Refleksi Hardiknas]

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa kita memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tanggal ketika Bapak Pendidikan Nasional, pendiri Taman Siswa yang dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara, dilahirkan. Sungguh merupakan suatu keniscayaan apabila di hari yang bersejarah ini kita berkontemplasi dan berinstropeksi sejenak akan pendidikan kita. Diakui atau tidak, kualitas pendidikan kita masih jauh dari harapan kalau tidak dikatakan berjalan di tempat.

Sejak awal para pendiri bangsa ini sangat memperhatikan masalah pendidikan. Hal itu bahkan secara tegas dituangkan di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yang menetapkan bahwa salah satu tujuan kita bernegara adalah menciptakan masyarakat yang cerdas dan berpendidikan. Dalam praktiknya, memang kita melihat bahwa yang dilakukan sejak awal Indonesia merdeka bukan sekadar pembangunan bangsa (nation building), bukan hanya pembangunan negara (state building), tetapi juga pembangunan kapasitas manusianya (capacity building). Di tengah kehidupan ekonomi yang sangat berat pada waktu itu, kita tetap mengirimkan orang-orang yang berpotensi untuk mengecap pendidikan di banyak negara. 

Hasil pendidikan itu memang tidak langsung kita rasakan pada masa awal kemerdekaan itu. Namun, ketika negara ini memasuki masa pembangunan, orang-orang yang mendapat kesempatan untuk belajar ke mancanegara itulah yang menjadi andalan, menjadi motor pembangunan kemajuan Indonesia. Sayang memang upaya peningkatan kapasitas manusia Indonesia tidak diprogramkan lagi secara khusus. Keinginan untuk mempercepat pembangunan ekonomi Indonesia membuat kita agak lupa untuk mempersiapkan generasi-generasi penerus. 

Akibatnya memang kita rasakan sekarang ini. Kita kekurangan orang-orang yang bukan hanya cerdas, tetapi juga orang-orang yang mempunyai hati. Teringat kita akan ucapan Wakil Presiden Indonesia pertama, Mohammad Hatta, yang mengatakan bahwa di zaman yang besar, yang muncul justru adalah orang-orang yang berpikiran kerdil. Padahal mustahil kita akan mampu membangun bangsa ini kalau kualitas manusia yang ada adalah kualitas yang medioker, yang pas-pasan. Sebuah bangsa hanya bisa menjadi bangsa yang besar, bangsa yang maju, apabila diisi oleh orang-orang yang juga berpikiran besar. 

Dalam era globalisasi saat ini, kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu faktor penentu kedigdayaan suatu bangsa. Meski kita sadari betul bahwa SDM yang berkualitaslah yang dapat membawa negara ini menjadi maju dan bisa berkompetitif dengan SDM negara-negara lain. Pasalnya, kemajuan dan persaingan di dunia yang semakin terbuka ini tidak mungkin dihadapi dengan kualitas SDM yang serba pas-pasan. Tentunya kita sepakat bahwa pembangunan harus mampu melahirkan manusia-manusia yang unggul dan semua itu hanya bisa dicapai dengan pendidikan yang baik dan berkualitas. 

Barangkali sebaiknya kita mulai berpikir seharusnya kebijakan pembangunan pendidikan sudah bergeser dari persoalan input ke pendekatan yang lebih menekankan pada output dengan fokus kepada keberhasilan melahirkan SDM yang berkapasitas unggulan dan berdaya saing tinggi. Pakar pendidikan Paolo Freire menyatakan bahwa pendidikan harus menghasilkan output (lulusan) yang memunyai kemampuan melihat masa depan. Artinya, hasil dari sebuah sistem pendidikan yang baik adalah SDM yang memunyai kemampuan inovasi, kreatif, cerdas, dan peka terhadap perubahan. 

Pakar masa depan, Alvin Toffler mengatakan, “Pendidikan harus selalu mengacu pada masa depan.” Maka, pendidikan bertugas mengembangkan pola-pola budaya baru agar dapat membantu masyarakat mengakomodasi perubahan-perubahan yang sedang dan sudah terjadi. Secara empiris, dunia pendidikan kita, meski mampu mengembangkan pola-pola pelatihan dan pendidikan baru untuk menjawab aneka tuntutan perubahan dari zaman ke zaman, masih terasa lamban. Padahal, secara imperatif maupun empiris era globalisasi telah menjadi sebuah realitas yang harus dihadapi. Aneka perubahan yang berlangsung mulai kelihatan dampaknya. 

Sebenarnya dampak-dampak globalisasi harus dihadapi dan diselesaikan, baik pada tingkat wacana maupun tingkat kebijakan aksi. Dalam lingkup ini, pranata pendidikan nasional, mau tidak mau, terlibat di dalamnya bersama dengan kekuatan-kekuatan sosial, budaya, politik, dan ekonomi pada umumnya. Ini penting agar dunia pendidikan tidak kian tumpul dan gamang dalam mengantisipasi era globalisasi yang menjadi isu kita dewasa ini (A Malik Fadjar, 2004). 

Presiden terpilih dengan kabinet barunya serta DPR baru harus mengambil langkah-langkah strategis dalam upaya membangun pendidikan nasional. Investasi di bidang pendidikan secara nyata berhasil mendorong kemajuan ekonomi dan menciptakan kesejahteraan sosial. Untuk itu, investasi di bidang pendidikan harus didukung pembiayaan memadai, terutama yang diperuntukkan bagi penuntasan program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. Bahkan, kini, diprogramkan untuk wajib belajar pendidikan dasar dua belas tahun. Seiring pencanangan program ini, sudah semestinya semua pemangku kepentingan berupaya dan berusaha sekeras mungkin menyelenggarakan dan menyukseskannya. 

Program wajib belajar dua belas tahun tersebut bukan semata-mata bertujuan meningkatkan rata-rata lama pendidikan rakyat Indonesia, tapi mendongkrak kualitas SDM negeri ini. Dengan makin tingginya jenjang pendidikan SDM Indonesia, kita meyakini bahwa daya saing kita dalam berkompetisi dengan negara-negara lain juga akan lebih baik dan mungkin akan unggul. Kita teringat pernyataan yang senantiasa disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Mohammad Nuh, saat berdialog dengan jajaran dunia pendidikan maupun peserta didik. Menteri mengatakan pendidikan adalah motor untuk mengangkat kita dari kemiskinan. Tanpa pendidikan, impian untuk mengangkat diri dari belitan kemiskinan serasa mustahil. 

Mengikuti agenda Millenium Development Goals (MDGs), tahun 2015 Pemerintah Indonesia harus menjamin bahwa seluruh anak usia sekolah dasar akan memperoleh pendidikan dasar. Ini sejalan dengan visi nasional kita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Bersamaan dengan itu, akses ke pendidikan menengah dan pendidikan tinggi juga harus diperluas guna mendukung upaya menciptakan knowledge society yang menjadi basis akselerasi pembangunan ekonomi di masa depan. 


Akhirnya, melalui momentum Hardiknas ini, penataan kembali prinsip-prinsip dasar pendidikan sudah waktunya dipikirkan kembali. Terlalu lama sudah perhatian kita tertarik pada hal-hal yang bersifat praktis sehingga melupakan sesuatu yang lebih fundamental dan berkaitan dengan masa depan bangsa ini. Kita harus bersepakat bangsa seperti apa yang ingin kita bangun di depan itu. Semuanya harus mengarah dan mendukung konsep bangsa yang ingin kita bangun itu. Membangun pendidikan nasional adalah mempersiapkan masa depan. 

 * Penulis adalah Sutrisno, Pekerjaan: Pendidik, Mahasiswa Pascasarjana
   Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
** Dimuat di Harian Koran Jakarta, Jumat 2 Mei 2014

Logika Sesat Ujian Nasional

Sesuai jadwal, ujian nasional (UN) tingkat SMA/MA/SMK/MAK dan SMLB digelar 14-16 April 2014, sementara ujian susulan 22-24 April 2014. Sementara program Paket C (IPA, IPS, Kejuruan) periode I 14-16 April 2014 dan periode II 19-22 Agustus 2014. Sedangkan untuk jenjang SMP, MTs dan SMPLB digelar 5-8 Mei 2014 dan ujian susulan 12-16 Mei 2014. Untuk kejar paket B/Wustha diadakan periode I 5-7 Mei 2014 dan susulan 19-21 Agustus 2014.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pun telah bertekad menjalankan UN tahun ini secara baik, tepat waktu, dan terhindar dari kebocoran. Mendikbud Moh. Nuh Pun telah menandatangai “pakta integritas” dengan kepala daerah dan kepala dinas di berbagai daerah. Kita mengapresiasi upaya Kemendikbud mewujudkan UN yang jujur. Sebab, UN yang berlangsung sebelumnya masih terjadi kecurangan dan bukan tidak mungkin UN 2014 juga bakal diwarnai kecurangan.
Perlu kita pahami bahwa akar permasalahan yang menjadi penyebab ketidakjujuran   pelaksanaan UN antara lain: Pertama, adanya kekhawatiran oleh pihak sekolah dalam hal ini oknum guru bahwa hasil nilai UN mata pelajaran yang sang guru pegang akan berada di bawah nilai standar UN sebagaimana yang ditentukan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
Kedua, adanya beban moral bagi guru pengasuh mata pelajaran UN untuk mengangkat nilai UN mencapai nilai standar yang sudah ditetapkan dan ini akan membawa nama baiknya bukan hanya di sekolah namun juga di mata sekolah lain. Ketiga, adanya kekhawatiran  oknum pimpinan sekolah/yayasan akan banyak siswanya yang tidak lulus UN dan secara otomatis akan berdampak pada gengsi sekolah itu sendiri. Keempat, disinyalir ada campur tangan pihak-pihak lain yang terkait yang mendukung terjadinya ketidakjujuran dalam pelaksanaan UN. 
Kecurangan ini sudah menjadi masalah nasional yang berakibat pada makin meningkatnya ketidakpercayaan masyarakat terhadap sistem evaluasi pendidikan nasional. Buktinya Mahkamah Agung (MA) mengabulkan gugatan untuk melarang evaluasi dengan UN. UN Boleh dilaksanakan dengan syarat pemerintah harus meningkatkan kualitas guru, akses informasi, dan peningkatan sarana-prasarana pendidikan di seluruh Indonesia.
Penulis menyorot kembali pelaksanaan UN. Sebab, hingga kini, pemikiran dan tujuan yang melandasi kebijakan UN masih amat rancu. Penjelasan para birokrat pendidikan di Jakarta maupun daerah tentang UN tidak konsisten atau mencerminkan kekurangpahaman mengenai fungsi dan tujuan ujian, evaluasi, dan standardisasi. Jika UN dimaksudkan untuk mendapatkan pemetaan kondisi pendidikan nasional, mengapa harus semua siswa mengikutinya? Mengapa tidak menggunakan metode sampling agar lebih hemat? Dan untuk tujuan pemetaan, seharusnya nilai ujian tidak perlu diumumkan, apalagi sampai menjatuhkan mental siswa (Sutrisno, 2013).
Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah tidak pernah memperbaiki kelemahan pelaksanaan UN. Kasus-kasus kecurangan UN tetap saja terjadi, meski Kemendikbud telah melibatkan berbagai pihak, termasuk Kepolisian, untuk mengawasi penyelenggaraan UN. Pemerintah pun tidak menindaklanjuti hasil UN dengan program tertentu, sehingga UN justru menjadi momok pendidikan nasional.
Mendikbud Moh. Nuh telah menegaskan bahwa sejak UN 2012-2014 bukan lagi alat seleksi utama yang menentukan kelulusan siswa. Berdasarkan Peraturan Menteri Penedidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 97 Tahun 2014 tentang Ujian Nasional, nilai kelulusan siswa merupakan akumulasi dari nilai UN dan nilai olahan sekolah. Persentase nilai UN memiliki bobot 60 persen, sedangkan nilai olahan sekolah berbobot 40 persen.
Tapi, rumusan kelulusan tersebut masih belum sempurna. Hemat saya, standar penilaian yang digunakan saat ini adalah standar mutlak. Padahal, seharusnya yang digunakan standar norma (standar penilaian yang digunakan atas pertimbangan kondisi setiap daerah yang berbeda-beda). UN harus memenuhi asas bermutu, berkeadilan, dan efisiensi. Sekolah-sekolah yang fasilitas kegiatan belajar-mengajar dan gurunya belum memadai seharusnya dilihat dan dipertimbangkan untuk menentukan nilai kelulusan. Jika UN digunakan untuk menentukan kelulusan siswa, prinsip ujian test what you teach (ujilah apa yang Anda sudah ajarkan) jelas sudah dilanggar.
Yang lebih miris, evaluasi UN tidak selaras dengan penerapan metode pembelajaran dalam kurikulum 2013. UN cenderung siswa belajar secara instan (kejar target lulus) sehingga mengabaikan proses belajar. Sedangkan dalam kurikulum 2013 siswa diajak untuk mampu menganalisis, observasi, dan presentasi. Dalam kurikulum 2013, penilaian hasil pembelajaran harus dilakukan secara berbasis kelas, portofolio, dan penilaian otentik. Mereka tidak “dihakimi” hanya ketika UN. Tetapi, mereka sudah mengumpulkan berbagai poin dari proses pembelajaran sebelumnya. Sedangkan penilaian UN masih ada “intervensi” dari pemerintah. UN tidak akan memengaruhi mutu pendidikan nasional jika dikaitkan dengan penerapan kurikulum 2013.
Oleh karena itu, evaluasi akhir di jenjang pendidikan harus dikaji ulang. Yang diperlukan adalah evaluasi komprehensif atas proses pendidikan yang mencakup aspek kognitif, psikomotor dan afektif. Evaluasi pendidikan juga harus menyeluruh, tidak bisa ditentukan oleh hasil dari beberapa bidang studi. Sebab, tiap bidang studi yang diajarkan wajib dievaluasi untuk mengukur capaian siswa. Kalau tidak dievaluasi, untuk apa diajarkan?
Aspek yang lain adalah memperbaiki validitas soal ujian. Fakta bahwa banyak siswa berprestasi di sekolah tidak mencapai nilai di atas standar menunjukkan validitas soal ujian dipertanyakan. Soal ujian tidak bisa dibuat serampangan, bahkan harus melalui uji sahih untuk masuk bank soal. Apalagi, hasil UN kali telah diintegrasikan dengan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).
UN masih menganut logika sesat! Betapa tidak. UN mengabaiakan dan tidak menghargai jerih payah para siswa belajar serta guru dalam mendidik. Tiga tahun siswa belajar beraneka materi pelajaran, tekun dan rajin mengerjakan soal ujian. Namun, pemerintah hanya menguji mereka dengan beberapa mata ujian, menjawab 50 nomor soal (itu pun pilihan ganda). Lalu ujian yang hanya tiga hari dengan 50 nomor soal itu digunakan untuk menentukan kelulusan anak.

Barangkali hanya di Indonesia sistem pendidikannya masih berkutat pada persoalan-persoalan UN. Ketika siswa-siswi di negara-negara lain sudah berlomba-lomba memikirkan bagaimana menciptakan sesuatu yang berguna buat orang banyak, di negeri ini para peserta didik kita masih saja dijadikan kelinci percobaan dalam suatu laboratorium besar bernama pendidikan nasional, terutama menyangkut penerapan sistem ujian nasional. Hal ini harus segera diakhiri!
Dimuat di Solopos _ Selasa 15 April 2014

Minggu, 25 Mei 2014

PPDB PROGRAM AKSELERASI 2014/2015

PPDB PROGRAM AKSELERASI 2014/2015 SMPN 1 WONOGIRI

http://smpn1-wonogiri.sch.id/index.php?id=profil&kode=100&profil=PPDB+AKSELERASI+2014%2F2015

Jumat, 02 Mei 2014

Perempuan Pemikir Bangsa

Setiap tanggal 8 Maret, komunitas pergerakan perempuan mengenalnya sebagai Hari Perempuan Internasional. Melalui tulisan ini, penulis ingin memaknai Hari Perempuan Internasional. Kita tidak bisa menutup mata akan kenyataan bahwa masih ada sisi gelap yang menyelimuti kaum perempuan. Perempuan adalah realitas yang terasing. Ia tersubordinasi di bawah wacana universal para filosof dan sabda agung kaum teolog serta represi politik kaum elite. Ia tersandera oleh kungkungan kultural dan struktural sejak milenium keempat sebelum masehi sampai kini.

Secara kultural dan struktural, perempuan masih berhadapan dengan realitas misoginis yang begitu sistemik dan hegemonik di ranah publik. Kita tidak bisa menutup mata akan kenyataan bahwa masih ada sisi gelap yang menyelimuti kaum perempuan. Berbagai perlakuan yang tidak merata masih kerap menimpa kaum perempuan. Potensi-potensi besar yang dimiliki oleh kaum perempuan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, kemakmuran, kemajuan sosial, perdamaian dan pemerintahan yang baik masih belum tersentuh. Kekerasan terhadap lain jenis kelamin tidak saja merusak kehidupan para perempuan, remaja-remaja putri, keluarga dan masyarakat, tetapi juga merenggut berbagai bakat yang mereka miliki dan sangat dibutuhkan oleh dunia.

Pada tataran praksis, kaum perempuan tak pernah lelah bergerak memperjuangkan eksistensinya. Sementara secara kelembagaan negara telah memberi lahan bagi pemberdayaan perempuan melalui kementerian pemberdayaan perempuan dan komisi perempuan. Namun mengapa semua landasan itu belum berhasil menjadi pijakan faktual bagi eksistensi perempuan, justru di tengah reformasi dan demokrasi dirayakan. Persoalannya, sejauh mana negara memberi peluang bagi aktualisasi potensi kaum perempuan?

Release Sarekat Hijau Indonesia dalam Peringatan Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 2010 lalu menyatakan bahwa negara gagal memberikan jaminan perlindungan dan pemenuhan bagi hak asasi perempuan, perempuan mengalami lapis-lapis kekerasan mulai dari pengabaian dan pengucilan terhadap pengetahuan dan pengalaman perempuan dalam berupaya menyelamatkan sumber-sumber kehidupan mereka, yang berbasis berbasis pada pengalaman dan kekhasan perempuan itu sendiri dalam pengelolaan sumber daya alam, termasuk bagaimana pengetahuan perempuan sebagai penjaga pangan keluarga dan komunitasnya.

Kita juga harus mengelus dada karena peran positif kaum ibu dalam kancah pembangunan juga ternoda dengan perliku negatif, yaitu terlibat dalam kasus korupsi. Sebut saja, Malinda Dee, Miranda Gultom Swaray, NununNurbaeti, Neneng Nazaruddin, Mindo Rossa Manulang, Wa Ode Nurhayati, Angelina Sondakh, Ratu Atut Chosiyah, tokoh “bunda putri”, dan lain sebagainya. Mereka adalah sosok ibu masa kini yang berperan jadi perantara, “pembelanja” dan aktor utama korupsi serta tindak pidana pencucian uang. Mungkin inilah satu satu “buah” dari gegap gempitanya gerakan emansipasi di negeri ini, dimana para kaum hawa berbondong-bondong hijrah dari zona domestik menuju ranah publik.

Perlu pembelaan negara terhadap nasib perempuan melalui berbagai kebijakan. Menurut A. Bakir Ihsan (2007), setidaknya ada empat agenda terkait eksistensi perempuan. Pertama, perlindungan terhadap kaum perempuan dari kekerasan, kejahatan, dan tindakan yang ekstrem. Kedua, peningkatan kualitas hidup perempuan sesuai dengan indeks pembangunan manusia. Ketiga, memajukan dan mengembangkan kaum perempuan di segala bidang baik politik, ekonomi, maupun sosial. Keempat, memastikan bahwa tatanan kehidupan, UU dan peraturan lainnya harus adil, tidak bias gender, dan tidak diskriminatif.

John Naisbitt dan Patricia Aburdene mengatakan bahwa abad XXI adalah abad kebangkitan perempuan atau pakar manajemen Tom Peters mengatakan, tomorrow belongs to women. Perempuan harus mampu memainkan peran dan tugas utamanya sebagai wanita yang sesungguhnya. Misi sejati memperingati Hari perempuan adalah untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Dari situ pula tercermin semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama. Yang lebih hebat, pemikiran dan aneka upaya penting itu terjadi jauh sebelum kemerdekaan negeri ini diraih dan jauh sebelum konsep-konsep adil gender dan feminisme berkembang di negeri ini.

Menjadi perempuan bukan hanya berfikir dalam lingkup kecil rumah tangganya, tetapi juga menjadi pemikir bagi bangsanya. Itulah sebenarnya makna sejati dari perjuangan politik, berpikir untuk bangsa, berpikir untuk rakyat, berpikir untuk cita-cita negara, berpikir untuk keberlangsungan masyarakat bangsanya. Kekuatan perempuan bisa menjadi salah satu sayap dari Garuda Bhineka Tunggal Ika, terbang membahana membawa citra cemerlang negara dan bangsanya. Belajar dari sejarah, harus ada reformasi dalam tubuh semua organisasi perempuan, kembali pada semangat juang Hari Perempuan, kembali pada makna perjuangan kebangsaan untuk mendobrak kekuatan-kekuatan di hadapan mata yakni kapitalisme dan imperalisme yang sangat jelas menterpurukkan kehidupan perempuan, mendobrak kemiskinan dan ketidak adilan, mendobrak tindak kekerasan dan perdagangan perempuan (Nuniek Sriyuningsih dan Sukirno, 2004).

Oleh karena itu, Hari Perempuan kali ini harus diarahkan untuk mengembalikan semangat juang kaum ibu dalam memajukan dan mensejahterakan bangsa dengan segenap potensi dan kemampuan yang ada. Kaum perempuan harus lebih optimal berperan serta dan berkontribusi secara signifikan dalam gerakan kebangkitan nasional serta kemajuan masyarakat, bangsa dan negara. Di negara mana pun juga peranan kaum ibu sangat signifikan bagi kemajuan bangsanya. Ingat sabda Nabi Muhammad SAW, “Perempuan adalah tiang negara. Jika perempuan baik, negara itu akan sejahtera secara penuh. Tetapi, jika perempuan rusak, negara itu akan rusak secara penuh pula.”.

* Penulis adalah Sutrisno, Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta

** Dimuat di Harian Republika, Sabtu 8 Maret 2014